meragu-membisu

aku rabun memahami perihal kebenaran
seperti meraba dinding takdir, hingga ke pegunungan Sinai
 
aku  tak mampu menyadari tanda-tanda Tuhan
seperti Thomas yang congkak, ia larut dalam imaji dan tak mempercayai-Mu
 
dan aku tetap meragu di tepian buritan lalu melambungkan pandangan,
seperti senja yang berwarna ungu, si penanda rindu ditengah temaramnya lampu…
 
aku tetap meragu
dalam pelukan sayapku
dalam dekapan rindumu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s