dear malam…

dear malam,
 
masih terjaga kah kau di padang-padang gemintang berkabut harapan itu? ah, kuharap kau juga masih rajin menyirami taman hening dengan kucuran sunyimu. oh ya, jikalau berkenan izinkan kawan’mu ini sedikit berbagi cerita. cerita kesukaan’mu mungkin. hari ini sejak mentari baru  bercanda denganku, seseorang ada yang bertanya dimana sang rembulan? “rembulan yang mana?” jawabku. “rembulan yang kau jadikan inspirasi, mungkin” katanya. aku bingung, tak pernah kusimpan rembulan di kotak-kotak kecil kenangan, di sela-sela rak buku berwarna ungu, atau bahkan di saku-saku rindu. aku tak tahu dimana ia ada.
 
aku benar-benar menyerah, tak mampu lagi menjawab. rembulan kali ini mempermainkanku. aku tak pernah menyembunyikannya. kupikir ia hanya bersebunyi dibalik awan, atau bahkan dipelukanmu hei malam. aku tak bermaksud menuduh padamu, hanya saja aku memang belum memiliki jawabannya kali ini. namun aku tahu, dalam teduhannya semua menjadi lebih jelas. jalananku yang senggang akan berarak cahaya biru, lalu menepikan pepohonan patah yang dimakan badai; dimana dikerikil dan aspal diam kedinginan beralih hangat dalam pelukannya.
 
malam, sampaikan salamku pada rembulan jika kau bertemu dengannya. aku yakin ia sedang menikmati keramaian pasar, sedang melamun di terasnya yang mungil, atau bahkan sedang berselimut nyenyak sekarang. ah rembulan, dimana kau berada. kau ada disana, aku tahu. jelas disana, namun apakah tangan-tangan mungilku mampu menggandengmu? bahkan memelukmu?
 
kini sudah larut, pastikan kau juga nanti beristirahat. akan kutemui kau esok, setelah aku berbincang dengan senja.
 
 
                                                                                                                                                                                                                        regards,
 
 
 
 
                                                                                                                                                                                                                   kesatria rapuh
 
NB: malam, aku lupa katakan. ia yang bertanya padaku memiliki sudut rembulan dimatanya, dan aroma wangi bunga matahari ditengkuknya. jaga juga dirinya, bimbing ia nanti dalam tidur. kamarnya tepat menghadap rembulan, kau tak mungkin salah…

7 comments on “dear malam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s