kenyataan yang pedih…

aku buta, jiwaku tak mampu meraba dinding dingin yang kokoh ini
jemariku melekat ditengahnya, memanggil namamu dengan irama sajak-sajak rindu
adakah hantu manapun bisa membantuku menembus ribuan dimensi ini untuk menemuimu
 
jalan sudah kutapaki dan berakhir di susunan batu tinggi dari penghalang kisah ini
kini apa yang langit-langit rumahmu katakan tentang aku yang berada di luar perbatasanmu?
adalah pilihanku untuk meninjunya, atau berusaha menaikinya~dimana keduanya aku tetap terluka
atau aku berbalik saja lalu pergi, memunggungi siang-malamu dan senyuman magis dari matamu
pedih setelah tahu aku hanya mampu berdiri di sisi lain dinding ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s