rasuk bintang malam

masih kugilas aspal legam tak berperi
tanpa alas kaki hanya tapak karet rodaku
merajah jauh merasuk dalam hati
memamerkan luka memar biru sedikit legam
disana menunggu gadis sendu pemanggul bisu
melekatkan jemari lembutnya pada bidang kasar
yang merubah semua menjadi penuh pelangi
berwarna bintang sedikit kelam berbau segar
 
haruskah
dalam diammu yang mematri waktu pada buku
membuatku pilu dan tersipu malu memujamu
berarak malam menusuki jantung berselimut rindu
“berdiam kau detak tak berujar jika lemah berkawan
dalam sakit yang merajut bersama keraguan…”
 
jikalau
satu dalam kehidupan sebenarnya ada dalam alam
mengapa semua menjadi serumit perkalian bilangan
seperti ilalang kering yang disapu angin dimakan api
semua menyatu dalam satu menjadi debu berwarna abu
tak mengeluh walau tubuh tak lagi fana dalam bentuk
hanya kesatuan jiwa perindu kasih mesra yang paling kuno
ketika Adam mendapat kawan lewat rusuknya yang kokoh
ia dianugrahi Hawa sang pemeluk kekuatan penerima doa
“biarkan aku sakit tersesat dalam bimbang melarung dan tenggelam
asalkan dia selalu sehat berlimpah kegembiraan lewat senyuman…”
nanti akan kuselipkan melati putih di antara sedih dan ketabahanmu
lewat kecup kecil
lembut
dalam
mimpimu
 
 
 
 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s