selepas satu musim angsana, yang menari dalam bara. udara mengenalkan aku pada tiada, yang mengabu dalam asa. “adakah disana diriku berasal?” lalu kini aku tiada mengiba perihal kisah-kisah pilu dalam rindu, yang megetuk katup rasa lewat aksara. tak kutemukan lagi Mazmur yang tepat untuk memuja, dalam diam – bahkan dalam tawa. “apakabar sinar lugu berbaju ungu?”. berteriaklah, katakan sudah – tak tau arah. mungkin dunia mengalir lewat nada, maka bisa kudengar kicauan usang penghuni surga dalam tidur siangku. yang mengadukan lara paling dalam ditiap baitnya, menyanyikan cerita paling pilu dikeramahan senyumnya. maafkan dedaunan kering dimuka rumah, terlalu banyak yang gugur, terlalu lelah untuk disapu. jika cukup adalah cukup, maka aku sebut pilihan itu penyebab…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s