diantara jemari

dibalik matamu tersebutlah cahaya yang memantul dari kaca kecil tepat didepan kesedihanmu, mereka bermain melewati lorong-lorong senyap pada jalanan tanpa cerita. dibalik matamu tersimpan tetes-tetes rindu anak sungai Yordan, yang menghanyutkan remah kenangan menuju pelupuk tandus tanah terjanji. dekatkan jemarimu disini. coba dekatkan jemarimu disini, katamu.
 
dibalik matamu waktu seperti tertatih merangkak pada bangunan berwarna merah jambu ditepi pipimu. dan aku hanya mampu berdiri, dengan jemari yang tetap melekat pada dinding kaca itu. jemarimu dingin. jemarimu dingin jika kurasa, kataku.
 
biarkan jemarimu disitu, katamu
tapi dingin kurasa, kataku
 
lalu apa, katamu
lalu apa?
lupakan saja
 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s