pada nyala sebab

Jakarta

Rabu siang, 31 Agustus 2011

                  Sudah lebih dari dua jam rupanya aku berdiam diperapian, melunakkan nyala kesenyapaan dari bebunyian kecapi nan riuh tepat disebelah barat pelataran taman.  Namun belum juga kupanjatkan doa untukmu wahai debaran bayu pengikat sukma – demi embun pagi penidur ragu, dan surya penghangat punggungku – maafkan ketiadaanku. Dimulai dari angkuhnya diam, kucicipi beberapa kudapan dan kenikmatan yang tersedia dimeja “sungguh, padamulah dunia berputar”.  Kepada mereka yang dikenal sebagai ketetapan Tuhan, yang dimanja suratan – mereka berkata-kata padaku sedari tadi perihal nasib atau apalah itu namanya dengan bahasa yang hanya ilalang berjubah putih yang paham, ingin tahukah aku? Tentu saja. Kau tahu hei kau guguran bintang yang lekat pada mataku – mereka hanya akan mendekatkan aku padamu, seperti kertas tissue pada lembaran turunan kedelai yang lembut.
 
 
-R.H-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s