tak apalah…

 
 
sejatinya perhentian ini memberiku kabar pada ribuan sabar yang memaku di papan waktu,
dan biarkan jejaring diam memapah tiap lelahku, pada pangkuan hujan yang ramah namun basah – menyerupai bibirmu
diremang hatiku, berdiri pejalan sendu didekat pepohonan randu yang mulai menguning,
ia bercakap-cakap dalam bahasa yang mengingatkan aku akan senja yang teduh – seteduh matamu
 
sementara deru dan debu meludahi ketegaranku, hanya debur dadamu penyembuh paling ampuh – “tak apalah” batinku
 
seingatku tiada yang lebih tentram dari senyummu, dibandingkan dengan dedaunan bintang langit yang memperhatikanku semenjak tadi – “apa yang sebenarnya kau sedang perbuat kisanak?”
telapak rindu merengkuhku erat, bernafaspun sulit – apalah arti sesak yang senikmat ini?
bukan kepalang mauku tenggelam pada secangkir janji yang hangat, dikesatuan dimensi, pada suatu masa, dimusim penghujan  
pada kata tiada, hanya ada aku yang tetap terjaga
 
jadi “tak apalah”
ulangku,
lagi…
 
 
 
 
 

dari sepanjang kisah, Keterlambatanmu yang mana yang tidak kutunggu?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s