kita dan secangkir teh

pada teh gula batu itu

tersirat kembali wajahmu,

adakah karena sadarku yang tiada

pada sesuatu yang tak ada

atau sekedar puja yang berima…

 

benarkah yang terbaca dari cangkir ini

sesuatu yang palsu dari gugur bibirmu?

yang nanti ‘kan tercecer pada lantai doa,

dan kita menyekanya pada jarak dan waktu

lewat sajakku yang mencari dirimu…

– sampai kelak

kau menyuguhkanku kembali, dengan cangkir yang sama…

NB: untuk seorang kawan, dan untuk diriku sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s