kura-kura (sebuah esai)

adalah suatu masa, kura-kura mengingini untuk tinggal pada bahtera
bahtera yang sama, yang menjauhkan semua dari tragedi
ketika itu terjadi, sang kura-kura tenggelam dan tersedak – ia bertahan dari badai
badai yang tak seberapa sebenarnya, dibanding langit yang lelah menangis
 
entah seberapa windu ia bertahan, dengan sedikit goresan dipelipis dan perutnya
belarik bintang telah ia hitung sampai bosan, sampai semuanya menjadi sebuah ilusi
ditengah samudra tanpa tepi, hanya sunyi, semua begitu tenang – begitu sama
ia mengerti, roman pada garis tangannya memang tak menuju kearah sana
arah yang pernah dijanjikan peramal tua, tanpa nama, hanya sendu parasnya
 
keabadaian itu ternyata berujung juga, pada tepi-tepi kayu bahtera yang mulai berlumut
“ketahuialah dunia selalu mempermainkan mahluk kuno paling dungu, yang bersemayam didalam rongga hatimu”
semua berubah, seperti bianglala – ditepi desa yang mulai riuh dikala malam dan senyap dikala fajar
sekarang siapa dia? yang dimakan jemari takdir dengan guratan yang mulai tak tampak – mulai tipis
mulai fana, seakan tak berupa – samakah nanti akhir cerita  ini?
kini ia menemui kembali bahtera, juga daratan, serta kawan lainnya
siapkah ia menggerus lagi daratan itu?
kembali melerai kisah dunia
atau ini hanya fatamorgana?
katakan
ini bukan
fatamorgana…
 
 
 
 
 
aku tak ingin melempit helai waktu, kembali kemasa itu
jadi kusisipkan saja diantara bantal dan kasur,
biar nanti saat dingin kukenakan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s