jalanan yang layu, yang dilupakan waktu

Namun, aku sudah tidak mengingatnya lagi.

Tentang jalanan yang bercerita pada segalanya, segalanya yang dirahasiakan oleh roda waktu.
Yang selama ini membeku, dan mengkristal – menunggu untuk berpendar.

Mereka tetap tinggal, pada riuhnya bunyi burung, pada gemerisik kerikil, dan pada bisunya aspal. Meskipun hangat lengan senja tak menyapaku lagi, semua menjadi terasa sama. Menjadi satu pada nampan abu, berembun dan berurai diudara – “berkacalah pada cahaya” ulangnya

Pada wajah anak-anak kecil yang berlarian, dan menerobos ilalang dikerumunan debu usang. Mereka membawa begitu banyak kepak sayap kenangan, lalu merekatkannya pada bahu rembulan – aku mencoba kembali.

Kala bunga kamboja masih menguning – kala masih terselip ditelingamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s