senja diujung cakrawala…

di ujung cakrawala, aku merasakan senja begitu dekat. dan langit mulai mengunci waktu, pada balairung yang kuciptakan sendiri. dimana ketiadaan menemani garis-garis bibirmu, yang terlalu luas, yang selalu membuat ku tersesat.
di debur dadaku, aku telah mengetahui segalanya sebelum hari ini tiba. sebelum mentari menutup tirainya. sebelum dedaunan mengumpulkan embun untuk bersolek, dan tertawa. telah terselip janji, yang kusimpan sendiri – pada pelupuk matamu.
 
perlahan, dalam aksara bisu, telah kubangun jembatan lewat pikiran-pikiran sendu. yang semuanya, hanya dimengerti oleh penghuni kayangan paling suci sepertimu.
 
“pada benih-benih ini kutitipkan rindu didalamnya, tanamkan pada dadamu. maka mereka akan terus bertumbuh dan menjulang, sampai kelak musim dalam dadaku memudar dan padam…”
 
“biarkan kala menari semaunya, biarkan cahaya mencari jalannya, namun janji tetap terjaga”. seperti pasir yang bermandikan hujan, tatapmu merengkuh begitu erat padaku
 
dan pada akhirnya semua akan membisu, lalu beranjak pergi, tanpa jejak-jejak kaki. hanya aroma wangi yang masih melekat, pada kuncup-kuncup kenangan bunga cempaka – yang tak berbatas
 
 
 
aku ingin tertidur dalam matamu, tempat segala musim dimana bintang-bintang bermekaran diatas pelangi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s