bermukim pada semesta

kala gelap bermukim pada malam, aku bertemu rembulan
“inilah dia, yang sesuai denganku” namun ia terbenam juga
bertemulah dengan bintang, sisi lain sang malam
“aku pikir tentulah dia, tiada lain” namun mengabur juga
 
pada fajar, aku bertemu mentari, lebih megah – lebih mempesona
“pastilah dia, sumber segala hidup dan kehidupanku”
dan tentu saja ia tetap tenggelam juga
semua berkesudahan, seperti lalap api pada tumpukan daun kering
 
kesanakah kita seharusnya berjalan? lewat musim yang tak dikenal semesta
agar bunga kenangan tak sanggup lagi tumbuh, memenuhi ingatan
sehingga kelopaknya yang ungu, mampu mengelabuhi lebah pemadu
 –
dengan anak kunci ketiadaan, nantinya kita membuka gerbang
yang seluas senja,
sehangat hatimu
semenarik senyummu
lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s