elegi pesawat kertas

Ia perlahan pudar, yang berawal lewat tatap
Kemudian menguap dalam senyap

Ia mungkin kerlip, dari lentera ketiadaan
Yang sembunyi dalam buta, dari cahaya mata
Berulang diundang, namun tetap pergi

Seperti sekam, tanpa tepi, tanpa peri

Pada wanginya, ditiap senja, selalu ada debur
Yang menyapa pasir, disisi pantaiku
Adakah itu pertanda untuk esok?
Atau hanya penantian yang Jemu, lagi?

Meski jalan ini sulit dan terjal, tapi tidaklah kekal
Sudah kubiarkan sayap-sayapnya menyertaiku terbang
Lewat hembusan angin
Lewat terik cahaya
Lewat segala yang dikenalkan malam…

 


jadi, kapan kau akan pulang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s