berbicara pada waktu disaat-saat terakhir

aku mengenal tubuh yang tergeletak itu
kenapa menyerupai perawakanku?
lalu aku apa?
gas atau api?
uap atau abu?
 
“kau pecundang busuk tak berkaki”
sejak kapan dinding mampu berbicara kasar?
satu dua kata lagi, kupecahkan nadinya!
 
mana, mana cahaya putih itu?
bukankah ini saatnya aku melanjutkan perjalananku?
meninggalkan masa lalu, melupakan masa kini
dan meniadakan masa depan, lagi
 
siapa itu, siapa memanggil namaku?
ah, sebenarnya dengan siapa aku bicara?
diriku sendiri kah?
bahkan jiwapun bisa gila rupanya?
 
siapa kau?
mengapa menangis dijasadku?
rumbai kainmu basah oleh darah
darah asing yang tak saling kenal
hei, jangan pergi, siapa kau?
“aku waktu”
kau meniadakanku
kau sengaja menjahuiku
kau mati
aku abadi
ia melirik silet dipergelanganku
lalu pergi dan tertawa…
 
 
 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s