kepingan-kepingan yang menyatukan dirinya sendiri, disuatu waktu

aku tak mengerti apa itu tatanan semesta, hingga aku mengenalnya sendiri
saat itu senja sudah terlelap sejenak, pada kereta terakhir dihari itu
aku berbincang sedikit “bagaimana kini pencarianmu, sudah ditemukan?”
sudah baik rupanya dirimu, masih tegar seperti dulu – kuat dan indah
 
dalam ketegaran yang kau simpan, aku masih merasakan debur yang sama
seperti yang kita lakukan dipingir pantai berbatu itu, menikmati cakrawala
 
pada saat yang sama, malam mulai bercengkrama denganku
“sebenarnya berapa bintang yang kau habiskan cantik?” kenapa?
“langitku habis kau telan, kini segala cahaya berasal dari wajahmu”
aku memang memilih untuk memelukmu sehari ini – tidaklah menyesal
 
aku menahan senyum dalam lekuk rembulan yang semakin erat memelukku
ia menenangkan hatiku yang beriak, yang sesekali memantulkan wajahmu
salahkan aku jika pernah mengingatmu, sebuah elegi lewat tetesan rindu
tentu tanpa keinginan untuk mencoba mengulang yang pernah terjadi – dulu
 –
ketika pilihan-pilihan yang kita buat ternyata tak menyempurnakan cerita ini
aku masih ingin semua ini tetap seperti adanya, tetap ada kau – walau bukan kita
 
 
 

“aku tahu apa nama bintang itu” apa? “nanti akan kuberitahu lewat kecupan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s