tik… bunyinya hanya sekali dalam semalam

tersesat dalam rimba ingatan itu tak lebih baik dari tersedak karena rindu yang tabah menunggu hujan. yang sesekali datang, sesekali juga tersenyum – namun kali ini berbeda. sebenarnya aku sudah tak ingat kapan kicauannya memberi debar pada malam-malamku, lagi. memahaminya sedikit, namun terperosok lagi lebih dalam. “harummu masih tersisa diteguk nadiku”

gaunnya masih sama, biru kehijauan dengan motif bunga kecil, dimana ia biasa bercengkrama dengan angin – dibelakang punggungku. sepertinya tadi sedikit berbeda, mimiknya bagai bulan sabit yang ingin segera purnama, namun tertunda karena musim. diperhentian itu kita sempat berbicara lewat kesunyian, yang pernah kita lupakan, yang tersembunyi dilekuk bibirmu. “mengapa musim ini berulang? bahkan ketika daun kemuning luruh satu-satu setelah hujan”

tolong katakan, atau diam selamanya
 

aku paham, malam adalah perpanjangan lenganmu, dan aku bintang kesepian. disudut langit manapun aku berada – aku tetap dalam genggamanmu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s