tentang hari ini, tapi untuk esok nanti

coba perhatikan lagi sayap-sayapku, mulai luruh dan runtuh dikakimu. tapi pahamilah ini, punggungku selalu paham kesedihan yang diisyaratkan angin tentangmu. tentang air mata dalam telaga yang tak bernama didalam hatimu. oh dinda, jangan pernah berhenti sekarang, disaat pintu-pintu yang tadinya kau buka dengan berani kini ingin kau tutup dengan ragu. jangan kau pertanyakan lagi rencana kita, sudah habis senja kau telan bulat-bulat dalam perutmu.

coba perhatikan lagi sayap-sayapku, tolong ingatkan aku bahwa sesungguhnya mereka berwarna putih. seputih rona-rona yang kau pancarkan, meski dalam kegelapan kamar. lirih kisah ini belumlah berakhir, sampai nanti kau dan aku bertekuk lutut dilantai altar yang dingin, dilantai yang telah ribuan kali mendengar janji-janji untuk dibisikkan pada pintu rumah Tuhan.

hingga pada saatnya aku tak bersayap, tetaplah kau merengkuh punggungku, dan jangan pernah berhenti untuk mengingatkan aku tentang lantai dingin altar itu.

sekali aku berjalan, pantang aku bersekutu pada bayangan. pada dia yang disebut penyesalan…

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s