menunggu dilupakan yang sempat terlupakan

satu setengah purnama sepertinya, dan selama itu aku hanya mendengar bunyi-bunyi sampan yang mencoba menjarah anak-anak sungai yang sunyi, yang ketika senja berjejal didepan dermaga sepi. entah mengapa, ikan-ikan disana sepertinya tak begitu peduli, tertarikpun tidak. sebenarnya kemana sipendayung mau membawa?

seiring gelombang pasang, mulailah aku mengenal lentik-lentik mata sauh, yang dilempar pada riak-riak yang dangkal. lalu mengaburkan bayangan awan yang tergambar diwajahnya. lebih dari itu, kupikir aku teringat sesuatu. bermalam-malam lalu, disuatu perhentian, sempat terbaca rona-rona yang sama denganmu. namun tidaklah pantas ada gugur dedaunan yang sama, ditaman yang berbeda. sesungguhnya ini hanya gurauan picis, yang terikat pada surau dipinggir danau. danau yang kuciptakan sendiri, yang tak perlu terjadi.

pada paruh bulan terakhir, sajak-sajak ini menari diatas kakimu. menikmati harum gaun cokelat didepan merapi, hanya untuk diriku sendiri. lalu tatapmu sembunyi dalam lara, dalam sedih yang kesekian kalinya. tangguhlah sejenak, “izinkan aku masuk”. tidak, ia berlalu begitu aja. bergandengan dengan waktu, mengacuhkan aku.
kepingngan yang coba kususun perlahan, kini tercerai dalam satu hembusan. berterbangan ditengah sungai, didalam sampan, dan diatas dermaga.  sudahlah

aku tak mau memungutinya, biarlah ditelah angin

 

One comment on “menunggu dilupakan yang sempat terlupakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s