sebentar lagi aku sampai

baru beberapa stasiun terlewati
tapi empat kali sudah
kondektur mengatakan
“sabarlah sejenak, masinis pasti mengantarmu”
“aku pasti sabar”
selorohku dalam diam

bukan sabar yang kutakutkan
namun candu seribu rindu
dari kecup hujan dirimu
yang tak kunjung tiba
“kenapa sepertinya lama”

waktu menambatkanku disini
bersama tetes-tetes mimpi
yang mengembara dihatiku
lalu tersesat dihatimu

empat, dua belas, tiga ratus dua
ah, sudah banyak pepohonan
kuhitung dari balik jendela
dari gerbong yang sesak
akan ingatan tentangmu
tentang peluk hangat
tentang kita


dengan menyebutkan
namamu dalam gerbong ini
aku memahami satu hal
kita sebenarnya
duduk bersisihan
dan aku merasa jauh
dari sendiri

tunggu aku ya…

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s