dari musim ke musim

ketika dua musim berpadu menjadi satu
sepertinya hanya menimbulkan kemarau air mata
dan penghujan sejuta perasaan,
sebuah keadaan yang pernah dipikirkan
namun tetap dijalankan

perjumpaan abadi yang akhirnya dikenang
bersama tenggelamnya senja dalam pelukan
sang malam yang cukup kejam melupakan
perjuangan-perjuangan kecil yang mampu
dibawa terbang kumbang
yang mampu ditelan kegelapan
abadi

dan dalam tiap kecup dikening
serta genggaman jemarimu yang bening
kembang-kembang cempaka kembali basah
dan langit mengupas kulitnya sendiri
lalu menunjukkan bintang dan rembulan
tidaklah seindah sabar debur dadamu
yang begitu dekat dengan kesunyian
untuk kita temukan
untuk kita kenakan
berdua

One comment on “dari musim ke musim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s