berdiri ditengah hujan

adalah hujan yang terlanjur turun sebelum mendung tiba. ketika itu lampu jalanan seperti kunang-kunang yang berserakan ditengah jalan. dan mereka menyanyikan lagu keputusasaan yang sangat populer. sebuah kisah kehilangan yang tak sempat dimiliki, katanya.

adalah hujan yang menemani setelah beberapa pesan pendek tak kunjung jua terbalas. dan payung biru tua itu mulai mengeluh pada tuannya, “bukannya menolak, sebaiknya kita pulang saja tuan”. berani sekali, sedang jarum jam saja baru bergerak delapan puluh menit lebih.

pada akhirnya, dimalam-malam berikutnya. barulah ia sadar, pesan itu bukan tak pernah sampai. tapi memang tak mungkin sampai.

malam sepertinya menelan pesan-pesan itu disana, disembunyikan hujan, dan payungnya yang terus berceloteh – tanpa bosan…

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s