Desember yang mencoba mencari Januari

rindu yang terlanjur tumbuh bersama hitam rambutmu mengalir deras dibawah mata senja dalam bentuk tetes-tetes hujan bulan Desember, dan aku melihat langit begitu merdunya menggiring mereka turun kedada wanita dengan bibir paling merah dan hangat disana

/

sementara semuanya terjadi beratus-ratus purnama jauhnya dari bumi yang biasa aku pijak, debar ini masih menyanyikan lagu yang sama seperti pada hari itu, hari dimana Desember tidaklah berisi tanggal-tanggal merah namun tentang waktu yang mulai gugur satu-persatu diatas January

/

dalam kenikmatan hari-hari tanpa senyum adinda pertiwi kepulauan yang sejengkal jauhnya dari kedip mata, lima dari tujuh hari romawi diisi hanya untuk mengingat dan tergenang diatas kanvas hitam-putih syair jatuh hati

/

bayangkan saja didalam ketidaksadaran malam ada ingatan yang timbul-tenggelam tentang kupu-kupu tak berwarna, menghisap madu dari bunga-bunga kegelapan ditaman langitmu dan aku semakin yakin tentang satu hal, bahwa mengingat itu semudah melupa, meniada itu tidak sesukar mengada, melugu sama dengan mengadu – aku kamu

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s