asmara menurutku, dan menurutmu

asmara bagiku
seperti musim penghujan,
bagaimanapun aku menghindar
akan selalu basah

seperti itulah dirimu,
entah kemanapun aku pergi
ada kau di ingatan

kopi saja tetap pahit
walau sebanyak apapun gulanya,
bagaimana caraku melupakanmu?
kau tak perlu tahu,
karena memang tak bisa sayang

dan aku harap,
asmara bagimu
seperti musim gugur,
sebanyak apapun jatuhnya
akan selalu tumbuh
lagi dan lagi,
takkan pernah habis

aku harap begitu,
jadi setidaknya
kita tak perlu
menyalahkan takdir
yang dengan sengaja
mempertemukan,
lalu memisahkan kita
begitu saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s