munajat pagi

selalu terngiang ditelinga
nada lembut dadamu didekapku,
“jangan pergi esok pagi”
“tetap disini bersamaku”
“kita nikmati sebentar lagi”
lalu tanganku melingkari
pinggangmu yang lekukannya
lebih indah dari lengkung rembulan,
“lihat diriku sayang”
“jauh dihatiku –
lebih jauh dari sekedar
jarak bumi kepada langit”
“hati ini jelaslah milikmu”
“lihat keatas, lihatlah bulan”
“biar aku jauh disana”
“bulan itu masih sama”
“seperti yang kau lihat disini”
lalu kecupan datang setelahnya
aku hitung ada sebelas
tidak-tidak, tiga puluh tiga persisnya
terakhir, dengan parau kau katakan
“jangan lupakan kita”

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s