untuk sebuah pertemuan yang kita impikan

kali ini pertemuan terjadi
setelah beberapa musim berlalu,

terakhir yang ku ingat
wangi rambutmu
menjadikanku seperti
bebatuan karang dipinggir pantai
yang hancur
terhantam gelombang,
aku tenggelam

dan tentu saja kecup pelan
perpisahan sesudahnya,
kalau saja kau masih ingat
barangkali

senyummu masih sama tentu,
hanya bulir-bulir
resah itu masih menggelayutimu

hal-hal baik belakangan
tidak pernah mendatangimu sepertinya,
kau tidak tahu
tapi aku merasakannya

tak banyak memang yang bisa
aku berikan,
beberapa patah kata
penguat jalanmu,
dan hangat genggaman tanganku
mungkin tak seberapa menarik

tapi aku membuatmu
membayar sepiring mie bihun,
yang ternyata porsinya
bisa dihabiskan kita berdua
“aku sudah kenyang, kau saja ya yang makan”
godamu

lalu tawa kecil
dan lirih pedihmu setelahnya,
“aku mau pulang” pintamu
tapi genggamanmu malas pergi
sudah terlanjur rebah ditanganku

“lagi-lagi perpisahan ya?”
tanya waktu kepadaku dengan pura-pura bersedih

dengan masih menggenggam tanganmu
kuhirup lagi wangi rambut
yang melekat dikeningmu,
tapi kali ini tidak menjadikanku karang
yang pecah dilautan,
namun dedaunan yang jatuh perlahan
ketika musim sudah waktunya
memanggil untuk
pulang

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s